Hai, namaku Bunga (samaran), umur 21 tahun, aku masih kuliah di
salah satu PTN terkenal di Jogja. Terus terang saja aku adalah seorang
gadis yang menyukai
sesama jenis dan aku menyadarinya semenjak SMP kelas 3. Dan aku mulai
bereksperimen dengan dunia lesbianku semenjak kelas 1 SMA. Ini adalah
sepenggal kisah pengalaman pribadiku yang benar-benar terjadi. Semua nama orang dan tempat dalam cerita ini sengaja disamarkan untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan.
Kisah ini diawali dengan kegemaranku akan chatting pakai IRC
dari dua tahun lalu. Dengan nick name **** (edited), aku iseng
menjelajahi dunia cyber. Akhirnya kutemukan chat room/channel yang cocok
denganku, bahkan aku sempat menjadi salah satu OP di sebuah channel
lesbian. Aku pun mulai berkenalan dengan beberapa orang yang kebanyakan dari luar negeri dan yang dari negeri sendiri. Bisa di katakan 50% orang yang online di channel tersebut adalah laki-laki, hal itu yang membuatku menjadi agak jengkel, mereka semua penipu. Sampai akhirnya aku berkenalan dengan seorang wanita.
(***-devil) Hiii… boleh kenal nggak yah?
(****_girl) Boleh… boleh… asl-nya donk.
(***-devil) Aku 30 f jkt… kamu?
(****_girl) Gue 20 f Jogja city… hi hi hi, eh udah agak tua hihihihi.
(***-devil) Yeee… emang nggak boleh, eh real name dong biar enak manggilnya.
(****_girl) Gue Bunga.
(***-devil) Met kenal Bunga… kenalkan aku… Lina.
(****_girl) Boleh… boleh… asl-nya donk.
(***-devil) Aku 30 f jkt… kamu?
(****_girl) Gue 20 f Jogja city… hi hi hi, eh udah agak tua hihihihi.
(***-devil) Yeee… emang nggak boleh, eh real name dong biar enak manggilnya.
(****_girl) Gue Bunga.
(***-devil) Met kenal Bunga… kenalkan aku… Lina.
Obrolan kami pun terus berlangsung, mulai dari hal-hal yang ringan hingga hal-hal yang berbau
seks. Hampir setiap hari kami bertemu di channel, kami pun mulai
bertukar alamat, nomor telepon, dan foto beserta biodata melalui e-mail
maupun langsung saat online di channel. Mbak Lina adalah wanita karier yang termasuk
dalam golongan yuppies (young urban profesional), dia belum berkeluarga
dan hidup sendiri di tengah kerasnya kehidupan ibukota. Hingga pada
suatu hari telepon di kosku berdering.
“Halo… bisa bicara dengan Dik Bunga?”
Aku pun menjawab, “Ya, saya sendiri… mmm ini dari siapa yah?”
“Ini aku Dik… Mbak Lina!”
Aku tersentak, ya ampun suaranya begitu halus dan lembut, suaranya mampu menggetarkan hatiku.
“Ya ampun Mbak Lina… bikin kaget saja, gimana kabarnya Mbak?”
“Baik-baik aja, eh Mbak bisa minta tolong nggak?”
“Ada apa Mbak?”
“Mbak sekarang ada di Jogja nih… bisa nggak kamu jemput Mbak di stasiun, sekalian nyari hotel buat Mbak bisa nggak?”
“Oh my god… kenapa nggak bilang-bilang kalau mau ke Jogja Mbak, iya deh Mbak aku jemput sekarang, Mbak tunggu saja di sana ok?”
“OK… makasih yah.”
Aku pun menjawab, “Ya, saya sendiri… mmm ini dari siapa yah?”
“Ini aku Dik… Mbak Lina!”
Aku tersentak, ya ampun suaranya begitu halus dan lembut, suaranya mampu menggetarkan hatiku.
“Ya ampun Mbak Lina… bikin kaget saja, gimana kabarnya Mbak?”
“Baik-baik aja, eh Mbak bisa minta tolong nggak?”
“Ada apa Mbak?”
“Mbak sekarang ada di Jogja nih… bisa nggak kamu jemput Mbak di stasiun, sekalian nyari hotel buat Mbak bisa nggak?”
“Oh my god… kenapa nggak bilang-bilang kalau mau ke Jogja Mbak, iya deh Mbak aku jemput sekarang, Mbak tunggu saja di sana ok?”
“OK… makasih yah.”
Dengan segera sore itu juga aku menjemputnya di stasiun, tak lupa
kubawa fotonya agar aku lebih mudah mengenali dirinya. Sesampainya di
stasiun, aku langsung bisa mengenalinya, wanita anggun dengan setelan
blazer khas wanita karier. Aku pun menyapanya, “Mbak Lina…!” Dia pun berpaling kepadaku, dan tampaknya dia terperanjat, “Ya ampun… Bunga… kamu nampak jauh lebih cantik dibandingkan photomu.” katanya, sembari tanpa malu-malu mengecup pipiku. Aku pun membalasnya dengan agak canggung. “Udah Mbak… ngobrolnya sambil jalan aja, udah sore nih, entar kemaleman lagi… yuk!”
kataku sambil kugandeng tangannya. Selama perjalanan Mbak Lina
bercerita bahwa dia ambil cuti seminggu untuk liburan, dan akhirnya
memutuskan untuk pergi ke Jogja, dia ingin mengunjungi Borobudur,
Prambanan, pantai Parang Tritis serta daerah wisata lain di sekitar
Jogja. Aku mencarikannya hotel yang dekat dengan kosku di sekitar kampus.
Kami pun tiba di hotel T, setelah check in kami berdua segera menuju
kamar, tampaknya Mbak Lina sangat lelah akibat perjalanannya.
“Mbak… kalau Mbak lelah, jalan-jalan ke Malioboronya besok aja Mbak, mendingan Mbak istirahat aja sekarang, OK?” kataku sembari beranjak keluar ruangan.
“Lho Bunga! kamu mau kemana?” tanya dia.
“Mmm… anu Mbak, Bunga pulang ke kos dulu… mau mandi, kan udah sore.”
“Kamu ini gimana, mandi di sini kan bisa, habis mandi nanti kita keluar… anterin Mbak jalan-jalan, gimana mau khan? please!” katanya sambil memohon kepadaku, aku pun mengangguk.
“Mbak… kalau Mbak lelah, jalan-jalan ke Malioboronya besok aja Mbak, mendingan Mbak istirahat aja sekarang, OK?” kataku sembari beranjak keluar ruangan.
“Lho Bunga! kamu mau kemana?” tanya dia.
“Mmm… anu Mbak, Bunga pulang ke kos dulu… mau mandi, kan udah sore.”
“Kamu ini gimana, mandi di sini kan bisa, habis mandi nanti kita keluar… anterin Mbak jalan-jalan, gimana mau khan? please!” katanya sambil memohon kepadaku, aku pun mengangguk.
Mbak Lina mulai melepas bajunya satu demi satu hingga tinggal BH dan celana dalamnya saja. “Bunga… kamu ini gimana, katanya mau mandi, ayo buka bajunya!”
katanya sembari melucuti pakaianku, aku hanya bisa pasrah saja dengan
tingkah lakunya, dia pun juga menyisakan BH dan celana dalamku saja,
meski tubuhku (175 cm) lebih besar dibanding dia (kurang lebih 165 cm)
aku tidak banyak berkutik. Aku bisa melihat lekuk tubuhnya yang indah dengan jelas, dadanya seukuran denganku 36B, dan ia memiliki belahan pantat yang sangat indah. “Hei… disuruh mandi kok malah bengong, ayo…!” dia membimbingku ke kamar mandi, kemudian segera menutup pintu kamar mandi begitu kami berdua berada di dalam. “Mmm… mandinya bareng aja yah, biar lebih cepet,
“katanya sambil tersenyum, sekarang dia mulai melepas BH dan celana
dalamnya dan tanpa canggung melepas punyaku juga. Terpampang jelas di
depanku wanita cantik dan seksi dengan payudara yang padat
dan menjulang ke atas, aku bisa membaui aroma kewanitaanya dari
kemaluannya, membuat kemaluanku semakin basah. Tanpa pikir panjang aku
langsung menubruk dan memeluk tubuhnya, aku memepet tubuhnya ke dinding
sehingga dia tidak dapat berkutik lagi, aku bisa merasakan sensasi yang menakjubkan
ketika payudaranya bergesekan dengan payudaraku, aku bisa merasakan
nafasnya mulai tidak beraturan. Mbak Lina memejamkan matanya, tampaknya
dia pasrah dalam pelukanku.
Tanganku pun mulai bergerilya, menyusuri tubuh indahnya,
kulumat bibir indahnya dengan bibirku, dia membalas pagutan demi
pagutan, dia merangkulkan tangannya ke leherku, napasnya semakin memburu
dan aroma khas kewanitaannya semakin keras menusuk hidungku. Aku pun
merasa kemaluanku semakin basah, payudaraku pun semakin menegang.
Pelan-pelan tanganku mulai merambat menuju kemaluannya dan… ya ampun…
kemaluannya sudah sangat basah, kuraba selangkangannya dengan lembut,
dan ia sempat tersentak ketika jari-jariku meraba klitorisnya, ketika
jariku ingin kumasukkan ke dalam liang kemaluannya dia mencegahku dengan
wajah memelas, dia menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin aku
melakukannya, mungkin dia masih perawan pikirku. Dia pun berkata, “Sayang…
dielus-elus saja yah… please,” katanya sambil memelas. Aku pun hanya
mengangguk. Kulumat lagi bibir indahnya sambil mengusap-usap
kemaluannya, dia pun juga mulai mengusap kemaluanku. Beberapa saat
kemudian aku merasakan sensasi enak yang menjalari tubuhku, hangat dan mulai memusat ke arah kemaluanku.
“Mbak… ahh… ah.. oughhh… terus… jangan berhentii… uuhhh… udah mau keluar nih.”
“Bungggaaa… aaah… Mbak juga udah mau keluar nih… ouuughhh…”
Sesaat kemudian tubuhku mengejang-ngejang dan aku merasakan cairan hangat mengalir deras dari kemaluanku, begitu juga dengan Mbak Lina dia memelukku dengan erat ketika dia mencapai orgasme, dia melumat bibirku agar tidak berteriak, setelah agak mereda, dia mulai melepaskan pelukannya tapi kemudian ambruk dalam pelukanku, tampaknya dia sangat lelah kemudian aku pun memandikannya dengan lembut dan dia pun juga melakukan sebaliknya kepadaku. Dia tampak pasrah sekali kepadaku, sampai-sampai dia tidak mau melepaskan pelukannya dariku. Kukeringkan badannya dengan handuk sambil sesekali mengelus payudara ataupun kemaluannya dan dia tidak memberikan perlawanan yang berarti sama sekali.
“Bungggaaa… aaah… Mbak juga udah mau keluar nih… ouuughhh…”
Sesaat kemudian tubuhku mengejang-ngejang dan aku merasakan cairan hangat mengalir deras dari kemaluanku, begitu juga dengan Mbak Lina dia memelukku dengan erat ketika dia mencapai orgasme, dia melumat bibirku agar tidak berteriak, setelah agak mereda, dia mulai melepaskan pelukannya tapi kemudian ambruk dalam pelukanku, tampaknya dia sangat lelah kemudian aku pun memandikannya dengan lembut dan dia pun juga melakukan sebaliknya kepadaku. Dia tampak pasrah sekali kepadaku, sampai-sampai dia tidak mau melepaskan pelukannya dariku. Kukeringkan badannya dengan handuk sambil sesekali mengelus payudara ataupun kemaluannya dan dia tidak memberikan perlawanan yang berarti sama sekali.
Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian kuciumi sekujur tubuhnya yang masih
bau sabun, kulitnya putih, mulus ,halus, lembut, tanpa cacat dan aku
suka itu. Mbak Lina sudah tampak pasrah sekali dan dia tidak bisa
melakukan perlawanan sama sekali, dan kupikir ini merupakan suatu
kesempatan bagiku. Kuikatkan kedua tangannya ke ranjang dengan scarf
miliknya, dan dia masih tidak melawan, aku tidak habis pikir, pasti dia
menikmatinya, gumamku dalam hati. Kutindih tubuhnya dengan tubuhku,
kuciumi bibirnya dengan penuh nafsu. Kembali sensasi menakjubkan itu
kurasakan saat tubuhku menghimpit tubuhnya, nafasku menjadi semakin
tidak karuan, kedua kemaluan kami saling bergesekan. Oh, aku sudah tidak
tahan lagi, langsung saja kuremas kedua payudaranya sambil sesekali
kuhisap, berkali-kali ia menjerit lirih. “Ohhh… mmm… uuouugh… Bunga… uuuhh…“jeritnya
tertahan. Desahannya itu semakin membuatku kehilangan akal, tanpa pikir
panjang kumasukkan kedua jariku ke dalam liang kemaluannya, dan…
“Bles…” meskipun liang kemaluannya masih rapat, aku tahu kalau dia sudah
tidak perawan, sempat terlintas di pikiranku kenapa dia melarangku
melakukannya tadi. Sesaat dia ingin mengatakan sesuatu tapi dengan cepat
aku langsung membungkam mulutnya dengan tanganku yang lain, dia pun mulai meronta.
Kembali kutindih tubuhnya agar dia tidak bisa berkutik, sembari
jariku masih mengobok-obok kemaluannya. Kedua jariku berusaha mencari
titik G-spotnya, sampai akhirnya aku menemukannya, kemudian aku tekan
kedua jariku. Beberapa saat kemudian Mbak Lina mulai menggeliat-geliat,
kedua kakinya dilingkarkannya ke pinggangku, tubuhnya mulai mengejang,
bahkan pantatnya sampai terangkat, mulutnya masih kubungkam dengan
tanganku. Tubuh Mbak Lina mengejang dengan hebat sampai-sampai Mbak Lina
memejamkan matanya. Setelah agak mereda, aku segera lepaskan tanganku
dari mulutnya. Saat itu aku baru menyadari kalau Mbak Lina menangis, aku
pun melepaskan ikatan tangannya dan… “Plakk… plakk…” Mbak Lina
langsung menampar wajahku dua kali. Karena aku merasa tidak melakukan
suatu kesalahan, aku pun mulai menangis. Belum pernah aku ditampar oleh
seorang pun seumur hidupku.
“Hiks… hiks… Bunga… kamu jahat sekali” katanya sambil sesenggukan.
“Mbak… apa salahku…” kataku sembari berusaha menghapus air mataku yang bertambah deras.
“Kamu… kamu kan harusnya sudah tahu itu, Mbak kan sudah bilang… jangan kamu lakukan itu tapi tetap saja kamu lakukan itu. Kamu tuh nggak ngerti perasaan Mbak… hiks,” katanya sambil menahan tangis.
“Mbak… Bunga minta maaf, waktu itu Bunga kalap… jadi Bunga kehilangan kontrol… maafkan aku ya Mbak!” aku mengiba kepadanya.
“Mbak… apa salahku…” kataku sembari berusaha menghapus air mataku yang bertambah deras.
“Kamu… kamu kan harusnya sudah tahu itu, Mbak kan sudah bilang… jangan kamu lakukan itu tapi tetap saja kamu lakukan itu. Kamu tuh nggak ngerti perasaan Mbak… hiks,” katanya sambil menahan tangis.
“Mbak… Bunga minta maaf, waktu itu Bunga kalap… jadi Bunga kehilangan kontrol… maafkan aku ya Mbak!” aku mengiba kepadanya.
Mbak Lina tidak memperdulikan ucapanku, dia membalikkan tubuhnya dan
membenamkan wajahnya ke bantal sambil menangis tersedu-sedu. Aku menjadi
serba salah. Aku pun segera berpakaian, kurasa Mbak Lina sekarang lagi
ingin menyendiri, jadi pelan-pelan kutinggalkan kamarnya. Aku keluar
dari hotel dengan berat hati karena merasa sangat bersalah. Dua jam
kemudian aku kembali ke kamarnya, ternyata dia tak mengunci pintu
kamarnya, aku pun masuk dengan mengendap-endap, aku takut dia masih
marah kepadaku. Aku melihatnya masih teronggok di atas ranjang,
tampaknya dia kelelahan sampai tertidur, kasihan aku melihatnya. Aku pun
mendekat dan berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. Tapi
kemudian ia terbangun, mungkin ia terbangun olehku. Dia membetulkan
selimutnya sambil menatapku dalam-dalam, aku tak berani menatapnya, aku
hanya bisa tertunduk malu.
“Bunga sekarang jam berapa?” katanya kepadaku.
“Jam sembilan Mbak,” jawabku takut-takut, sambil terus menunduk.
“Ya ampun… Mbak belum makan malam nih… temenin Mbak makan yuk!” kata dia.
Aku tidak menjawab, aku hanya mengangguk pelan. Dia pun segera berdandan dan berganti pakaian. Lalu dia menggandeng tanganku keluar kamar, dia menggenggam tanganku dengan erat, entah apa yang dipikirkannya.
“Bunga sekarang jam berapa?” katanya kepadaku.
“Jam sembilan Mbak,” jawabku takut-takut, sambil terus menunduk.
“Ya ampun… Mbak belum makan malam nih… temenin Mbak makan yuk!” kata dia.
Aku tidak menjawab, aku hanya mengangguk pelan. Dia pun segera berdandan dan berganti pakaian. Lalu dia menggandeng tanganku keluar kamar, dia menggenggam tanganku dengan erat, entah apa yang dipikirkannya.
Kami pun akhirnya makan di sebuah rumah makan dekat hotel yang kebetulan
buka sampai malam. Selama makan pun kami saling berdiam diri, tidak
mengucapkan sepatah katapun. Sepulang dari rumah makan itu, Mbak Lina
kembali menggandeng tanganku dengan erat, seolah tidak ingin
melepaskanku. Kami kembali menuju hotel dan segera menuju kamar. Begitu
kami masuk kamar, Mbak Lina langsung mendudukkanku di bibir ranjang, aku
sudah siap jika ia ingin memarahiku lagi, aku menundukkan kepalaku,
tidak berani menatap wajahnya. Tapi kemudian tangannya yang halus dan lembut mendongakkan kepalaku, dia menatapku dalam-dalam. Karena merasa takut, tanpa sadar air mataku mulai mengalir.
“Lho Bunga… kenapa kamu menangis?” tanya dia sambil menghapus air mataku.
“Mbak… Bunga minta maaf, Bunga ngaku salah, maafin aku ya Mbak…!” kataku terisak.
Mbak Lina bersimpuh di hadapanku, diambilnya tanganku, dia genggam erat tanganku.
“Bunga… harusnya Mbak yang minta maaf sama kamu, Mbak udah ngasarin kamu… udah sekarang kamu jangan nangis lagi yah… sayang,” kata dia sambil mengecup keningku.
“Harusnya Mbak memberitahu kamu sejak awal tentang ini… mmmm… begini. Sebenarnya Mbak punya komitmen akan sesuatu...” katanya memecah suasana.
Dia berkata, “Mbak pernah berjanji pada diri sendiri, barang siapa yang pertama kali melakukan seperti apa yang kamu lakukan tadi pada Mbak, maka Mbak akan setia bersama dia sebagai seorang kekasih.”
“Tapi… tapi Mbak kan sudah nggak perawan lagi…” kataku.
“Iya betul… tapi aku kehilangan kegadisanku oleh tanganku sendiri, perlu kamu ketahui kamulah orang pertama yang melakukan itu padaku, meski dulu aku punya pacar tapi tidak ada yang seberani kamu dan senekat kamu sehingga mereka tidak pernah berani macam-macam sama Mbak… kamu mengerti sekarang sayang,” kata dia.
“Mbak… Bunga minta maaf, Bunga ngaku salah, maafin aku ya Mbak…!” kataku terisak.
Mbak Lina bersimpuh di hadapanku, diambilnya tanganku, dia genggam erat tanganku.
“Bunga… harusnya Mbak yang minta maaf sama kamu, Mbak udah ngasarin kamu… udah sekarang kamu jangan nangis lagi yah… sayang,” kata dia sambil mengecup keningku.
“Harusnya Mbak memberitahu kamu sejak awal tentang ini… mmmm… begini. Sebenarnya Mbak punya komitmen akan sesuatu...” katanya memecah suasana.
Dia berkata, “Mbak pernah berjanji pada diri sendiri, barang siapa yang pertama kali melakukan seperti apa yang kamu lakukan tadi pada Mbak, maka Mbak akan setia bersama dia sebagai seorang kekasih.”
“Tapi… tapi Mbak kan sudah nggak perawan lagi…” kataku.
“Iya betul… tapi aku kehilangan kegadisanku oleh tanganku sendiri, perlu kamu ketahui kamulah orang pertama yang melakukan itu padaku, meski dulu aku punya pacar tapi tidak ada yang seberani kamu dan senekat kamu sehingga mereka tidak pernah berani macam-macam sama Mbak… kamu mengerti sekarang sayang,” kata dia.
Dia kembali berkata, “Bunga… maukah kamu menjadi kekasihku?”
dia memohon sambil berlutut di hadapanku. Sekali lagi aku tidak ingin
membuat kesalahan, aku tidak ingin mengecewakannya lagi, aku pun
mengangguk pelan. Mbak Lina pun bangkit, kemudian dia duduk di
pangkuanku, lalu dia melepas t-shirt yang dikenakannya,
terpampanglah dua gundukan indah di hadapanku, terbalut BH putih
berenda. Kami berpandangan, Mbak Lina tersenyum manja, kemudian dia
mengecup bibirku, aku pun tersenyum. Kupeluk tubuh indahnya kemudian
kubaringkan dia, kemudian… “Bunga! Jangan ditindih ya… please… habis kamu berat sih,”
katanya manja. Aku pun cuma mengangguk, aku lalu berbaring di
sampingnya, kubelai rambutnya dengan lembut, kukecup keningnya,
bibirnya, kemudian lidahku mulai menelusuri tubuhnya, kucium dadanya,
pagutan demi pagutan membuatnya tampak kegelian. Kulepaskan BH-nya yang dari
tadi masih menutupi gunung kembarnya, puting susunya tegak berdiri,
tampaknya dia sudah sangat terangsang. Kujilati puting susunya satu
persatu. “Oooh…!” Mbak Lina mendesah kegelian, aku pun mulai menghisap puting susunya yang sebelah kanan sedang yang kiri kupilin-pilin putingnya dengan kedua jariku. Kali ini Mbak Lina mengeluarkan desahan-desahan yang menggairahkanku, dia memejamkan mata sambil menggigit bibirnya, berusaha menahan gairah yang begitu menggelora.
Setelah cukup puas, kubuka t-shirt beserta BH-ku, kupeluk tubuhnya
kemudian kubalikkan tubuhnya sehingga kini ia menindihku. Dia duduk di
atas tubuhku. Kini tangannya mulai usil memilin-milin kedua puting
susuku sambil tersenyum manja, kulingkarkan tanganku ke pinggangnya
sehingga tubuhnya semakin dekat denganku. Kuraih punggungnya sehingga ia
kembali menindihku, kedua kaki kami saling membelit, tangannya masih
meremas-remas kedua payudaraku, dia menatapku dalam-dalam, aku tahu apa
maksudnya. Bibir kami pun bertemu, saling melumat, lidah kami saling
berpilin, dada kami saling bergesekan, aku pun mulai merasakan
kehangatan bunga-bunga cinta di antara kami.
Mbak Lina sudah tidak sabar lagi, ia mulai melepas celana jeans beserta celana dalam yang dikenakannya, dia juga melepas pakaian yang masih
menempel di tubuhku. Kini kami berdua sama-sama telanjang bulat, kami
mulai bergumul di atas ranjang, berguling-guling ke sana kemari. Aroma
kewanitaan dari kemaluan kami mulai terasa keras menusuk hidung.
Kemaluan kami berdua benar-benar basah, terbukti ketika kami saling
menggosokkan kemaluan kami sampai terdengar bunyi berdecak-decak
pertanda kemaluan kami sangat becek. Bibirku terus melumat bibirnya,
nafasnya mulai tidak teratur, kumasukkan kedua jariku ke kemaluannya,
dia pun tak mau kalah dia juga memasukkan kedua jarinya ke dalam liang
kemaluanku, aku mulai mengobok-obok kemaluannya sambil terus memeluknya
dengan erat. Tidak… sekarang tidak hanya kedua jariku, kini kumasukkan
tiga jari ke dalam kemaluannya dan dia pun semakin menggila, tangannya yang satu lagi meremas pantatku dengan kuat, tubuhnya semakin mengejang-ngejang.
“Ooohh… oughhh… aaahhh… Bungaaa… mau keluar nihhh… ooohh…” dia mendesah dengan keras.
“Ooohh… oughhh… aaahhh… Bungaaa… mau keluar nihhh… ooohh…” dia mendesah dengan keras.
Dan aku pun bisa merasakan cairan hangat keluar dari
kemaluannya, aroma kewanitaan pun semakin terasa, membuatku semakin
menggila. Tak lama kemudian aku pun mencapai orgasme, tubuhku mengejang
dengan hebat, seolah-olah ada yang meledak
dalam tubuhku. Kami berdua terkulai lemas dalam pelukan, aku masih
sempat melihat dia tersenyum kepadaku, kemudian dia memejamkan matanya
dan tidur dalam pelukanku. Keesokan harinya aku terbangun, aku mendapati
dirinya masih meringkuk dalam pelukanku, aku sibakkan rambut yang menutupi
wajahnya, wajahnya tampak berseri-seri, aku tidak tega membangunkannya,
dia begitu cantik dan anggun. Aku pun terus membelainya sampai kemudian
ia terbangun. Kukecup bibirnya dengan lembut. “Selamat pagi…” kataku lirih.
TAMAT
0 comments:
Post a Comment