Hallo, perkenalkan nama saya David Gunawan (nama samaran). Saya ingin
menceritakan pengalaman saya, dan untuk beberapa percakapan yang ada
sudah saya terjemahkan ke bahasa Indonesia. Saya sekarang kuliah di
Florida State University di kota Tallahassee, di negara bagian Florida.
Saya sekarang di semester kedua dan kehidupan saya di sini termasuk
biasa-biasa saja dan dapat dibilang membosankan. Hanya banyak
cewek-cewek cantik saja, terutama di musim panas ini yang kebanyakan
memakai baju-baju seksi.
Singkatnya, saya mau menceritakan pengalaman saya ketika masih di SMA
di Indonesia, walaupun saya hanya menjalaninya di kelas tiga. Oh ya,
saya berasal dari Semarang dan saya mantan murid di salah satu SMA
Swasta katolik di kota Semarang. Saya mengikuti program pertukaran
pelajar bersama salah satu agen yang cukup terkenal di Indonesia,
namanya *** (edited). Waktu itu saya di kota kecil atau lebih tepat di
sebut desa di negara bagian Indiana. Saya belajar di salah satu kota
kecil yang namanya Cunnigham, Indiana. Kehidupannya seperti di film
Cowboy, semuanya sawah, pertanian dan peternakan. Sekolah saya termasuk
sekolah kecil yang muridnya hanya 500 anak yang Amerika High School
empat tahun. Di sekolah kami hanya mempunyai exchange student dua orang
yaitu saya sendiri dan satu cowok dari Korea Selatan.
Saya tinggal di salah satu keluarga angkat. Nama mereka John dan
Elaine Hogancamp. Itu nama orang tua angkat saya. Mereka dikaruniai dua
orang anak, satu laki-laki yang masih di grade 9(tahun pertama high
school) atau SMA kelas tiga di Indonesia yang namanya Jimmy, dan satu
anak perempuan yang namanya Emily. Emily ini orangnya sangat cantik,
anaknya lebih tinggi dari saya, sekitar 175 cm yang memiliki pantat
seksi dan aduhai deh. Body-nya kayak gitar spanyol, wajah dan rambutnya
itu mirip seperti artis Hollywood yang namanya Sandra Bulock. Rambutnya
hitam tetapi tidak sehitam orang Asia. Berhubung dia sudah punya cowok,
saya tidak berani berpikir yang macam-macam tentang dia dan dia sudah
seperti adik saya sendiri (SMA kelas 2).
Keluarga angkat saya sangat baik dan mereka memperlakukan saya
seperti anaknya sendiri. Saya membantu pekerjaan mereka di pertanian,
bapaknya adalah petani kedelai di Indiana. Suatu hari saat liburan
natal, John, Elaine dan Jimmy pergi ke Indianapolis, Indiana untuk
menjenguk neneknya Elaine di rumah sakit. Waktu itu saya alasan ingin
tinggal di rumah, padahal sebenarnya malas pergi jauh-jauh hanya untuk
ke rumah sakit (jahat juga ya, hehehe). Emily juga di rumah karena dia
ada latihan Cheerleader di sekolahnya.
Malam sekitar dua hari sehabis malam natal, saya sedang
asyik-asyiknya chatting di Internet dengan teman, Emily datang bersama
cowoknya yang namanya Jonathan. Jonathan itu adalah pemain basket yang
tingginya lebih dari 190 cm.
Mereka bilang, “Hai David, What’s up..?”
Saya bilang, “Not Much, Where’ve you been..?” tanya saya membalas.
Emily bilang mereka habis nonton film, mereka nonton Mystery of Alaska. Waktu itu Emily memakai sweater, tetapi sweater hitam yang ketat dan payudaranya kelihatan ranum, walaupun menurut saya rada kecil untuk cewek bule.
Mereka bilang, “Hai David, What’s up..?”
Saya bilang, “Not Much, Where’ve you been..?” tanya saya membalas.
Emily bilang mereka habis nonton film, mereka nonton Mystery of Alaska. Waktu itu Emily memakai sweater, tetapi sweater hitam yang ketat dan payudaranya kelihatan ranum, walaupun menurut saya rada kecil untuk cewek bule.
Melihat saya memperhatikan Emily, Jonathan berkata, “What are you looking for..?”
Wajah saya langsung merah, dan saya jawab sekenanya. Saya bilang pohon natal itu bagus sekali dan saya alasan macam-macam. Emily melirik dan tersenyum nakal ke saya ketika Jonathan melihat ke pohon natal.
Wajah saya langsung merah, dan saya jawab sekenanya. Saya bilang pohon natal itu bagus sekali dan saya alasan macam-macam. Emily melirik dan tersenyum nakal ke saya ketika Jonathan melihat ke pohon natal.
Akhirnya mereka pergi ke kamarnya Emily. Saya penasaran dengan
mereka, akhirnya saya mengendap ke kamarnya Emily. Mereka tidak menutup
rapat pintunya, mereka mengira tidak ada orang di rumah dan saya sedang
sibuk di Internet. Terus saya lihat Jonathan memegang kepalanya Emily
dan Emily merangkulnya. Saya kaget, ternyata mereka melakukan hubungan
French Kiss, dan Jonathan mengelus perutnya Emily, tanganya bergerilya
ke dua gunung kembarnya.
Saya sampai geleng-geleng, “Dasar bule, kalau ngeseks pada pintar-pintar semua.” dalam hati saya.
Saya sampai geleng-geleng, “Dasar bule, kalau ngeseks pada pintar-pintar semua.” dalam hati saya.
Saya mengintip dari pintu dan saya tengkurap di balik pintu. Akhirnya
Emily membuka kaosnya dan aduh mak, susunya itu padat kenyal dan ranum
sekali, Emily di atas dan Jonathan menghisap puting dan susunya. Tangan
kananya mengelus vaginanya dan tangan kirinya memegang bahunya. Emily
seperti cacing kepanasan, dan rambutnya kusut yang menambah birahi saya.
Dan dia teriak histeris, “Oh My God, Suck my Nipples (puting) ahh ahh aahhh aahhh suck it..!” dan Jonathan hanya mengecupnya.
Dan dia teriak histeris, “Oh My God, Suck my Nipples (puting) ahh ahh aahhh aahhh suck it..!” dan Jonathan hanya mengecupnya.
Terus Jonathan memasukkan batang kejantanannya yang perkiraan saya
panjangnya 17 cm, soalnya saya tidak melihat dengan jelas. Jonathan
sandaran di temat tidur dan Emily di posisi sebaliknya. Saya melihat
Emily di posisi tersebut dengan jelas dan rambutnya yang sebahu makin
kusut.
Emily teriak, “Fuck me baby, Fuck me. Ahhh aahhh…”
Jonathan menggesek batang kejantanannya ke lubang senggamanya.
Emily teriak, “Fuck me baby, Fuck me. Ahhh aahhh…”
Jonathan menggesek batang kejantanannya ke lubang senggamanya.
Akhirnya setelah beberapa menit, Jonathan memasukkan batang kejantanannya dan memegang bahu Emily.
Jonathan teriak, “Oohh Emily, I love you..”
Susunya diremas-remas, susunya dipilin, dan Emily hanya mendesis dan memegang kaki Jonathan. Saya sampai tertegun melihat adegan tersebut. Akhirnya saya tidk kuat lagi dan langsung saya ke kamar saya. Saya onani sambil membayangkan kalau saya Jonathan.
Jonathan teriak, “Oohh Emily, I love you..”
Susunya diremas-remas, susunya dipilin, dan Emily hanya mendesis dan memegang kaki Jonathan. Saya sampai tertegun melihat adegan tersebut. Akhirnya saya tidk kuat lagi dan langsung saya ke kamar saya. Saya onani sambil membayangkan kalau saya Jonathan.
Sekitar tengah Malam, Jonathan pulang dan saya sedang menonton TV, tiba-tiba Emily mengetuk pintu saya.
“Hey David..” katanya.
Saya jawab, “Hey..”
“Can I come in..?” tanyanya yang berdiri di depan pintu dengan rambutnya yang sebahu dan agak kusut serta bibirnya yang membuat saya gemas.
Apalagi dia hanya memakai kaos kutang dan celana pendek yang seksi sekali.
Saya jawab, “Tentu..” dan saya langsung tanya sama dia, “How is your day? Did you have a good time with Jonathan..?”
Dia hanya tersenyum dan bilang, “Yeah..”
“Hey David..” katanya.
Saya jawab, “Hey..”
“Can I come in..?” tanyanya yang berdiri di depan pintu dengan rambutnya yang sebahu dan agak kusut serta bibirnya yang membuat saya gemas.
Apalagi dia hanya memakai kaos kutang dan celana pendek yang seksi sekali.
Saya jawab, “Tentu..” dan saya langsung tanya sama dia, “How is your day? Did you have a good time with Jonathan..?”
Dia hanya tersenyum dan bilang, “Yeah..”
Terus dia duduk memandangi kamar saya dan dia akhirnya melihat salah satu CD cover-nya Jamrud.
Dia bertanya, “What is this..?”
Saya bilang kalau itu adalah lagu orang Indonesia. Dia ingin mencoba mendengarnya, tetapi saya bilang kalau didengarkan pun dia pasti tidak mengerti. Kami tertawa terbaka-bahak, dan akhirnya saya menyalakan lagunya Jamrud yang berjudul “Berakit-rakit”. Dia sepertinya serius sekali mendengarkan lagunya. Setelah lagu Selesai, kami basa-basi sana sini, kami membicarakan tentang Indonesia dan bagaimana SMA di Indonesia.
Dia bertanya, “What is this..?”
Saya bilang kalau itu adalah lagu orang Indonesia. Dia ingin mencoba mendengarnya, tetapi saya bilang kalau didengarkan pun dia pasti tidak mengerti. Kami tertawa terbaka-bahak, dan akhirnya saya menyalakan lagunya Jamrud yang berjudul “Berakit-rakit”. Dia sepertinya serius sekali mendengarkan lagunya. Setelah lagu Selesai, kami basa-basi sana sini, kami membicarakan tentang Indonesia dan bagaimana SMA di Indonesia.
Kemudian dia bertanya, “Saya mau nanya boleh ngga..?”
Saya bilang, “Okay..”
Dia bilang, “Kamu ngintip saya ya ketika saya bersama pacar saya..!”
Saya kaget, saya tidak bisa bicara dan wajah saya sampai merah seperti kepiting rebus.
Saya bilang, “Saya hanya lihat sekilas.”
Dia bilang, “Bohong.., saya lihat kamu cukup lama ketika saya main di atas dan mata saya melirik ke pintu.”
Saya tetap menyangkal, dia hanya tersenyum dan berkata, “David kalau kamu tidak mau jujur, saya akan ceritakan ke semua cewek di sekolah kalau kamu onani.”
Saya tidak bisa bicara lagi, dan akhirnya daripada saya malu, saya bilang, “Ya, saya lihat..”
Dia pandangi saya, “Kalau cowok saya tahu, kamu bisa kena damprat.”
Saya hanya dapat berkata, “Sorry deh…”
Saya bilang, “Okay..”
Dia bilang, “Kamu ngintip saya ya ketika saya bersama pacar saya..!”
Saya kaget, saya tidak bisa bicara dan wajah saya sampai merah seperti kepiting rebus.
Saya bilang, “Saya hanya lihat sekilas.”
Dia bilang, “Bohong.., saya lihat kamu cukup lama ketika saya main di atas dan mata saya melirik ke pintu.”
Saya tetap menyangkal, dia hanya tersenyum dan berkata, “David kalau kamu tidak mau jujur, saya akan ceritakan ke semua cewek di sekolah kalau kamu onani.”
Saya tidak bisa bicara lagi, dan akhirnya daripada saya malu, saya bilang, “Ya, saya lihat..”
Dia pandangi saya, “Kalau cowok saya tahu, kamu bisa kena damprat.”
Saya hanya dapat berkata, “Sorry deh…”
Dia bilang, “That’s Ok..”
Saya lega sekali. Dia berjalan ke arah saya dan memeluk saya. Dia melihat wajah saya sambil tersenyum dan berkata, “You are so cute…”
Saya bilang, “Thanks..”
Dia bertanya, “Teman kamu Janet naksir kamu, kok kamu ngga mau..?”
Saya bilang saya lagi ingin sediri, padahal saya tahu Janet itu cewek yang mau ngeseks sama orang.
Saya lega sekali. Dia berjalan ke arah saya dan memeluk saya. Dia melihat wajah saya sambil tersenyum dan berkata, “You are so cute…”
Saya bilang, “Thanks..”
Dia bertanya, “Teman kamu Janet naksir kamu, kok kamu ngga mau..?”
Saya bilang saya lagi ingin sediri, padahal saya tahu Janet itu cewek yang mau ngeseks sama orang.
Kami berdansa di kamar saya dengan lagunya “All I have to give” dari
Backstreet Boys yang kami dengar di radio. Dia memeluk bahu saya dan
saya memeluk pinggangnya.
Dia bertanya pada saya, “Kamu punya cewek di Indonesia..?”
Saya bilang kalau kami telah putus karena keberadaan saya di Amerika. Dia hanya tersenyum. Akhirnya dia medekatkan kepalanya dan kami mulai French Kiss. Dia mengecup bibir bawah saya dan saya balas saja, lidah kami saling berpautan. Lidahnya menghisap lidah saya dan dia teriak medesis. Tangan saya bergerilya di sekitar gunungnya.
Dia bertanya pada saya, “Kamu punya cewek di Indonesia..?”
Saya bilang kalau kami telah putus karena keberadaan saya di Amerika. Dia hanya tersenyum. Akhirnya dia medekatkan kepalanya dan kami mulai French Kiss. Dia mengecup bibir bawah saya dan saya balas saja, lidah kami saling berpautan. Lidahnya menghisap lidah saya dan dia teriak medesis. Tangan saya bergerilya di sekitar gunungnya.
Ternyata dia melepaskan saya dan dia bilang, “Maaf saya sudah punya cowok, dan saya tidak bisa melakukannya denganmu.”
Saya bilang tidak apa-apa, padahal dalam hati kecewa sekali.
Dia tersenyum sambil berkata, “Kamu hebat juga berciumannya..”
Saya tersenyum dan dia mengecup kening saya sambil berkata, “Good night…” dan saya agak kecewa, tetapi saya mengerti keadaannya.
Saya bilang tidak apa-apa, padahal dalam hati kecewa sekali.
Dia tersenyum sambil berkata, “Kamu hebat juga berciumannya..”
Saya tersenyum dan dia mengecup kening saya sambil berkata, “Good night…” dan saya agak kecewa, tetapi saya mengerti keadaannya.
Begitulah, hari-hari kami lalui dengan baik. Kami seperti kakak
beradik, walaupun berbeda ras, negara dan budaya. Dia banyak membantu
saya, terutama mengenai bahasa Inggris. Kadang-kadang kalau dia pergi
sama Jonathan, saya diajak dan saya ditemani Janet, sebenarnya saya
tidak begitu suka dengan Janet, tapi daripada diam di rumah, bersama
mereka lebih baik.
Suatu hari, sekolah saya mengadakan prom/dance school (kalau yang
pernah nonton American Pie pasti tahu deh), dan saya malas pergi dengan
Janet, saya jadi tidak punya teman kencan.Emily pergi dengan cowoknya,
dan baju pesta saya dipilihkannya. Kami pergi bertiga dan Emily, wow,
malam itu terlihat cantik sekali. Memakai gaun malam warna abu-abu dan
rambutnya disanggul dan senyumnya malam itu manis sekali. Setelah itu
Jonathan menjemput kami berdua dan Jonathan memberi mawar kepadanya,
mereka berciuman.
“Dasar bule, berciuman tidak lihat keadaan..!” pikir saya dalam hati, saya jadi cemburu dan ingin melihatnya.
“Dasar bule, berciuman tidak lihat keadaan..!” pikir saya dalam hati, saya jadi cemburu dan ingin melihatnya.
Kemudian kami makan di Restaurant kota. Dan ketika sampai di sana,
semua terkejut melihat saya. Bukannya saya sombong ya, soalnya saya
berbeda sekali, saya kelihatan ganteng dan keren. Apalagi saat berdandan
dibantu adik angkat saya.
Saya berdansa dengan sembilan cewek, dan asyik juga sih walaupun
tidak punya pasangan. Ketika lagu terakhir, saya berdansa dengan Emily.Dia tersenyum manis dan bertanya pada saya, “Kamu suka acara ini..?”
Saya bilang, “Ya, saya menyukainya.”
Dia tersenyum terus menyandarkan kepalanya ke bahu saya. Asyik, adik saya di bawah sampai bangun.
Dia tersenyum, “You are horny don’t you..?” katanya lembut, saya hanya tertawa saja.
Kami sudah seperti kakak beradik, jadi seks bukan hal yang aneh bagi kami.
Ketika acara selesai, dia bertanya pada saya, “Where is Jonathan..?”
Saya bilang tadi sih di luar dan kemudian kami berdua mencarinya.
Setelah mencari kemana-mana tidak ketemu, “Jangan-jangan kita ditinggal..” kata saya.
Dia bilang, “Dia tidak mungkin begitu..”
Terus kami lihat ke mobil Jeep Cherokee tahun 1995-nya di pojok gedung yang sepi. Kami mendekatinya. Sampai di sana ternyata Jonathan sedang telanjang dengan teman Emily yang namanya Brandi. Anak ini cantik juga, payudaranya 38C dan pantatnya besar seperti bola basket. Emily menampar cewek itu, Jonathan kaget dan terlihat seperti kebingungan. Waktu itu tempat parkir sepi sekali, yang ada hanya kami berempat.
Emily berkata, “Jonathan… You bitch, why would you do this to me, I love you Jonathan..!”
Emily meninggalkan mereka dan dia menangis tersedu-sedu. Saya tidak berkata apa-apa, saya hanya dapat mengikuti dia dan kami jalan di sebelah gedung pesta di Mc Donald. Kami diam seribu bahasa. Karena saya suntuk dengan keadaan seperti itu, saya menyalakan rokok.
Dia tersenyum, “Smoke is bad for you…”
Saya hanya tersenyum, dan akhirnya dia minta rokok juga. Akhirnya, kami ngobrol.
Saya kasihan sama dia, dia menangis ke saya, “Selama ini saya pacaran dengan Jonathan yang ternyata hanya omong kosong.”
Saya diam saja dan memegang tangannya, kemudian saya berkata, “Emily, sudahlah… lupakanlah dia. Dia memang hangat dan gagah, tetapi untuk apa kalau ternyata dia tidak mencintaimu. Dia hanya menginginkan seks saja darimu.”
Saya coba menghibur dia lagi, “Sudahlah… jangan menangis lagi, senyum dong…”
Akhirnya dia mau juga tersenyum ke saya, terus saya bilang, “Nah gitu dong, Kamu kan jadi kelihatan cantik..!”
Dia tersenyum, “Kamu baik sekali…”
Kemudian kami ngobrol dan dia bertanya, “Kenapa kamu tidak punya cewek..?”
Saya bilang saja kalau saya pernah benar-benar merasakan sakit hati dan saya masih trauma.
Kami pulang naik taksi walaupun sangat mahal, karena rumah kami cukup jauh dari situ. Sampai di rumah, orangtuanya meninggalkan pesan bahwa mereka ke Indianapolis dengan Jimmy, karena ibunya Elaine mau dioprasi.
Dia tersenyum dan bertanya pada saya, “David, maukah kamu menemani saya malam ini..?”
Saya tentu saja mau, apalagi melihat keadaannya yang sedang patah hati itu.
“Mau nonton film..?” katanya mencoba menghangatkan suasana.
“Ehm.., terserah kamu saja deh..!” jawab saya.
Dia menyalakan film-nya Jacky Chan yang judulnya “Shanghai Noon”. Saya tidak konsentrasi dengan film yang saya tonton, tetapi justru melihat pahanya dan susunya, adik saya jadi bangun.Dia kelihatan sedih dan saya coba menghiburnya, “Emily, lupakanlah dia saat ini..!”
Dia tersenyum dan merangkul saya dan saya mengelus-elus punggungnya.
Tiba-tiba dia bertanya, “Maukah kamu melakukan sesuatu untuk saya..?”
“Melakukan apa..?” jawab saya.
Dia bilang, “Saya mau melupakan Jonathan dan saya ingin melakukannya sambil bercinta denganmu.”
Saya senang sekali mendengar pernyataannya dan dia merangkul saya. Saya cium dan peluk dia. Setelah itu kami melakukan French Kiss lama sekali.
Terus saya gendong dia ke kamarnya dan kami berciuman di kamarnya. Habis itu saya buka gaun malamnya dan saya lihat payudara 34C-nya yang untuk ukuran orang Bule sih tidak terlalu besar. Putingnya yang menonjol saya hisap dan tangan saya meremas susunya yang sebelah kiri, dia hanya mendesis dan merapatkan kepala saya ke dadanya.
“Ohh David.., oohhh David, yeah.. yeah..” desahnya yang membuat saya tambah terangsang.
Habis itu saya turun ke perutnya dan saya sampai di bibir kemaluannya. Saya raba, jilat dan hisap klirotisnya. Dia seperti cacing kepanasan menahan gejolak itu, sampai saya sempat tidak dapat bernafas karena terlalu kerasnya dia menjepit kepala saya.
Tiba-tiba dia berkata, “Stop David, I want 69..”
Dia berjalan ke arah saya dan terus mengecup pipi saya.
Dia bilang, “Saya dengar cowok Asia itu kemaluannya kecil ya..?”
Saya hanya melihatnya saja, dan celana saya dibukanya.
Dia berkata lagi, “Saya suka penis kamu, ini tidak terlalu kecil (ukuran panjang 12 cm dengan diamater 3 cm).”
Saya di bawah memegang pantatnya dan dia menghisap batang kejantanan saya dan juga memegang dua buah bola saya. Kami berdua terangsang berat, dan dia meracau dalam bahasa Inggris.
Saya mencoba menahan birahi saya, dan akhirnya dia orgasme duluan. Air kemaluannya keluar dan saya menghisapnya. Dia mengocok dan menghisap batang kejantanan saya dengan sangat kuat.
“Ahhh.. ahhh.. ahha.., come on Emily, suck it..!” desah saya waktu itu.
Dan akhirnya keluar juga sperma saya. Dia menelan sperma saya yang kemudian diikuti dengan senyumannya.
“I like your cock, it is so cute…” katanya.
Saya bilang, “Mengejek yach..!”
Setelah kami terdiam beberapa menit, saya memasukkan batang kejantanan saya ke liang vaginanya. Saya melakukannya dengan posisi tubuhnya membelakangi saya, saya memasukkan batang kejantanan saya sambil meremas susunya. Dibantu tangannya, saya mulai mendorong hingga masuk semua batang kejantanan saya. Emily meracau dengan keras menikmati tiap dorongan yang saya lakukan. Saya hanya mendesis sambil meremas dan menghisap putingnya.
“Ahhh… aahhh.. ahhh…” desis saya sambil memegang pantatnya dan rambutnya.
Saya meremas susunya hingga Emily mendesah, “Ohhh David, ahhh ahhh ahhh…” dan saat itu terlihat Emily seperti kesetanan.
Kami berganti posisi, kami bermain dengan posisi dooggy style. Saya melihat ekspresi wajahnya di cermin. Penampilan sensual dan rambut kusutnya membuat saya semakin gemas dan semakin liar meremas buah dadanya.
“Ohh Emily..,” desah saya sambil mata saya memandangi tubuh kami melalui cermin.
“Ohhh… Come on David, Oh yeah.., yeah…” dia pun meracau sekuat tenaga.
Secara bergantian saya remas susu dan pantatnya, saya hujam liang senggamanya dari belakang dan dia mengimbanginya dengan memaju-mundurkan pantatnya.
Akhirnya Emily berkata, “David, Iii aammm coommiiinnggg…”
Saya bilang, “Tunggu.., saya juga… keluarin dimana… dalam atau luar..?”
Dia jawab, “Di.. lu.. aar.. saja…”
Beberapa menit kemudian dia keluar dan, “Ooohhh Daviddd.., ooohhh David I love you..”
Mengalirlah cairan kemaluannya di batang kejantanan saya. Setelah beberapa menit, dia membalikkan tubuhnya dan mengocok serta menghisap batang kejantanan saya. Diperlakukan seperti itu, junior saya mengeluarkan laharnya. Semua cairan itu ditelan dan dihisap bercampur dengan cairan kemaluannya.
“David, kamu sungguh hebat.. Ini adalah yang pertama kalinya saya melakukan seks dengan orang Asia.” katanya memuji permainan saya, saya balas sambil membelai rambutnya.
Setelah itu kami bercerita mengenai pengalaman kami masing-masing, dan kami akhirnya mandi dan saling menyabuni. Dia menyabuni batang kejantanan saya dan juga saya sebaliknya menyabuni susunya dan liang kewanitaannya. Akhirnya, mimpi saya yang selama ini saya cita-citakan tercapai juga.
Setelah mengalami masa ujian, akhirnya saya lulus SMA. Kemudian dua hari setelah kelulusan, saya berencana pulang ke Indonesia.
Malamnya, ketika saya memberesi barang-barang saya, Emily berkata, “Bagaimana perasaanmu..?Apakah kamu merasa senang mengenai kepulanganmu..?”
Saya mengiyakan dan dia langsung memeluk saya sambil berkata, “David, I love you..”
Saya bilang, “I love you too.”
Dia bertanya pada saya mengenai hubungan kami, dan saya hanya dapat berkata, “I am sorry.”
Masalahnya saya menganggap dia sudah seperti adik saya sendiri.
Mendengar penjelasan saya, dia tersenyum dan terharu, “Saya sangat senang kamu telah berada di sini selam satu tahun ini.” katanya lirih.
Begitu juga dengan perasaan saya yang sangat senang berada bersama keluarganya.
Dia kemudian menambahkan, “Saya berharap akan mendapatkan pacar seperti kamu.”
Saya pun berkata, “Kamu akan menemukan cowok yang sayang, cinta sama kamu, yang tidak hanya mencintai wajah dan tubuhmu saja, tetapi juga mencintai hati kamu.”
Mendengar perkataan saya, dia memeluk saya erat-erat. Setelah itu dia membantu membereskan barang saya.
Sambil menghabiskan waktu saya di sana, kami jalan-jalan ke daerah perkotaan naik mobilnya tanpa tujuan. Kami bercerita macam-macam dan pergi sana-sini. Kami sempat melakukan French Kiss dan hubungan intim di dalam mobilnya ketika kami berada di tempat parkir yang sepi.
Besoknya saya diantar ke Airport. Ketika di Airport, saat salam perpisahan, Jimmy, John Elaine menangis dan terharu.
Emily berpesan, “Kalau kamu kuliah di Florida, kamu mampir ke sini yach..!”
Emily sampai nangis setengah mati dan saya berkata, “Bye, see you Emily.”
Dia mencium pipi saya.
Ketika di Airport, dari Indianapolis ke Los Angeles, saya termenung dan sedih sekali. I really had good time in the US, walaupun saya hanya berada di desa atau country side. Kemudian ketika di Los Angles saya bertemu rombongan orang Indonesia lainnya, dan kami bersama-sama pulang ke Indonesia.
Emily dan saya masih saling berhubungan, kadang dia menelpon saya dan bertanya kabar saya. Dia masih single, dan saya rindu sekali dengannya. Dia lulus SMA tahun ini, dan rencananya mau melanjutkan ke College di Indiana.
Kemarin ketika Natalan, saya mengunjungi mereka dan saya menghabiskan waktu 3 minggu di Indiana. Saya sebenarnya sayang dengan Emily, begitu juga Emily, hanya karena saya di Florida dan dia di Indiana, kami tidak mungkin bisa jadian. Kami masih seperti kakak beradik, dan seadainya jodoh, kelak kami akan dapat kumpul kembali.
TAMAT
0 comments:
Post a Comment