Yayuk adalah adalah sepupu Ibuku, pada usia 24 tahun gadis yang masih
terlihat polos ini dilamar dan dinikahkan dengan Heru, seorang sarjana
ekonomi yang pada waktu itu sudah berdinas sebagai Staf Muda kantor
pajak di salah satu kota di Kalimantan. Setelah menikah Yayuk dibawa
untuk tinggal di sana dan bersama mereka tinggal juga Ibu mertua Yayuk.
Setahun setelah menikah, Heru mengajak istri dan Ibunya untuk
berlebaran di kampungnya di Jawa. Mereka mengambil transportasi lewat
laut yang lebih murah karena dititipi untuk membawa barang-barang berupa
perabot meubel pesanan seorang atasan Heru di Jawa. Waktu itu belum ada
kapal penumpang Pelni yang bagus sehingga terpaksa menumpang sebuah
kapal barang. Kebetulan saat menjelang Lebaran itu penumpang di semua
angkutan memang penuh. Di kapal yang ditumpangi Yayuk pun semua cabin
awak kapal sudah habis disewakan sehingga keluarga Yayuk tidak kebagian
kamar lagi dan terpaksa menggelar tikar di salah satu geladak kapal, itu
pun kebagian geladak sebelah luar yang ditutupi terpal.
Karena suasananya berangin dingin tidak menyenangkan, sesaat kapal
bertolak, Yayuk yang berpembawaan berani tanpa memberitahu keluarganya
diam-diam menghadap sendiri kepada Kapten kapal menanyakan kemungkinan
ada kamar lagi untuk mereka. Oleh Kapten dia diminta menanyakan sendiri
pada Enos, Perwira Satu yang mengatur masalah penumpang. Pergi menemui
Enos di kamar kerjanya Yayuk baru di jumpa pertama sudah sempat tertegun
melihat ketampanan laki-laki yang simpatik ini, tapi di situ meskipun
sudah merengek-rengek ternyata memang tidak ada kamar lagi. Dalam pada
itu Enos yang juga sekali melihat sudah langsung tergiur dengan
kecantikan dan kemulusan Yayuk, mencoba iseng menggoda karena dinilainya
perempuan muda ini jinak dan mudah didekati. Waktu itu Yayuk sedang
merayu untuk diperbolehkan dia dan Ibu mertuanya menggunakan kamar kerja
Enos.
“Waduh gimana ya Yuk, nanti Mas nggak punya tempat kerja lagi. Tapi…
hmmm… bisa juga sih, asal nanti Yayuk sendiri tidurnya di kamar sebelah
situ, gimana, bisa kan?” kata Enos yang sebetulnya sudah kasihan akan
memberi cuma saja disertai iseng-iseng merayu sambil menunjuk kamar
tidurnya di sebelah.
“Lho itu kan kamar tidur Mas, lalu Mas sendiri tidurnya di mana?”
“Ya sama di situ juga.”
“Ihhik… berdua di situ sih malah bukannya tidur Mas… Lagipula Ibu Yayuk nanti mau di kemanain?” jawab Yayuk tertawa malu-malu genit.
“Kan bisa aja, mula-mula berdua Ibu di sini tapi kalau Ibu sudah tidur kamunya pindah ke kamar Mas,” kata Enos semakin berani berlanjut.
“Wihhh.. itu sih nekat Mass… nanti ketauan Ibu malah rame nggak karuan,” Yayuk tertawa geli sambil memukul canda pangkal lengan Enos yang mulai merapat kepadanya.
“Lho itu kan kamar tidur Mas, lalu Mas sendiri tidurnya di mana?”
“Ya sama di situ juga.”
“Ihhik… berdua di situ sih malah bukannya tidur Mas… Lagipula Ibu Yayuk nanti mau di kemanain?” jawab Yayuk tertawa malu-malu genit.
“Kan bisa aja, mula-mula berdua Ibu di sini tapi kalau Ibu sudah tidur kamunya pindah ke kamar Mas,” kata Enos semakin berani berlanjut.
“Wihhh.. itu sih nekat Mass… nanti ketauan Ibu malah rame nggak karuan,” Yayuk tertawa geli sambil memukul canda pangkal lengan Enos yang mulai merapat kepadanya.
Keduanya ketika itu berbicara sambil berdiri berhadapan.
“Kalau cuma bikin supaya nggak ketauan sih gampang, yang penting maunya dulu, nanti diaturnya belakangan.”
“Ah Mas sih guyon aja, nanti udah gitu tapi tau-taunya harga sewanya dimahalin juga?”
“Ini bener-bener serius, pokoknya kalau mau malah bisa Mas kasih gratis,” kejar lagi Enos tapi sudah mulai menarik Yayuk merapat padanya.
Enos 30 tahun, laki-laki playboy peranakan Menado-Jawa ini memang pintar memanfaatkan ketampanannya untuk menaklukkan wanita. Yakin bahwa Yayuk bisa ditaklukkan, dia makin berani apalagi dilihatnya ada kesempatan terbuka. Begitu rapat dia pun mulai merangkul pundak Yayuk.
“Tapii… gimana caranya Mass…” terdengar nada Yayuk bimbang tergiur tawaran Enos.
“Pokoknya tenang aja… Bilang mau dulu nanti Mas yang jamin pasti aman…”
“Kalau cuma bikin supaya nggak ketauan sih gampang, yang penting maunya dulu, nanti diaturnya belakangan.”
“Ah Mas sih guyon aja, nanti udah gitu tapi tau-taunya harga sewanya dimahalin juga?”
“Ini bener-bener serius, pokoknya kalau mau malah bisa Mas kasih gratis,” kejar lagi Enos tapi sudah mulai menarik Yayuk merapat padanya.
Enos 30 tahun, laki-laki playboy peranakan Menado-Jawa ini memang pintar memanfaatkan ketampanannya untuk menaklukkan wanita. Yakin bahwa Yayuk bisa ditaklukkan, dia makin berani apalagi dilihatnya ada kesempatan terbuka. Begitu rapat dia pun mulai merangkul pundak Yayuk.
“Tapii… gimana caranya Mass…” terdengar nada Yayuk bimbang tergiur tawaran Enos.
“Pokoknya tenang aja… Bilang mau dulu nanti Mas yang jamin pasti aman…”
Kali ini bujukan Enos sudah diikuti aksinya. Yayuk yang masih
menunduk malu-malu diangkat dagunya untuk diajak bertatap mesra. Dan
ketika Yayuk masih terdiam ragu, Enos sudah menunduk dan memberinya satu
ciuman dalam menempel di bibirnya. Yayuk sempat gelagapan, tapi ajakan
berciuman laki-laki berwajah tampan simpatik ini cepat saja memukaunya
dan melambungkannya dalam asyik. Sehingga dia jadi terikut membalas
melumat, saling bergelut lidah bertukar ludah. Yang begini jelas tambah
memperlemah Yayuk karena tiba-tiba tubuhnya terasa melayang dipondong
Enos dibawa berpindah ke kamar tidur sebelah. Tentu saja Yayuk kaget,
meronta-ronta untuk lepas tapi bibirnya disumbat ketat oleh bibir Enos
dan baru dilepas ketika tubuhnya sudah dibaringkan di atas tempat tidur.
“Aduhh nggak Mas, aku nggak mau..! ja.. jangan Mass, jangan
sekarang..!” panik dia ingin ke luar dari kepungan Enos tapi cepat
dibujuk Enos.
Yayuk memang sudah mulai terbujuk Enos tapi suasananya dianggap tidak cocok saat itu.
“Sstt, ssst tenang aja… Mas juga nggak ngajakin sekarang kok..?”
“Tapi ngapain aku dibawa ke sini!?”
“Mas cuma mau buktiin lewat ciuman tapi kuatir di sebelah situ ada yang mergokin kita, kalau di sini kan aman. Tenang aja, percaya sama Mas deh.”
Yayuk memang sudah mulai terbujuk Enos tapi suasananya dianggap tidak cocok saat itu.
“Sstt, ssst tenang aja… Mas juga nggak ngajakin sekarang kok..?”
“Tapi ngapain aku dibawa ke sini!?”
“Mas cuma mau buktiin lewat ciuman tapi kuatir di sebelah situ ada yang mergokin kita, kalau di sini kan aman. Tenang aja, percaya sama Mas deh.”
Yayuk terbujuk lagi dan agak tenang, dia pun segera menerima lagi
ciuman dan lumatan Enos. Kembali dia melambung dalam asyiknya berciuman,
di sini Enos semakin menjadi-jadi. Tangan pelaut senior ini cepat saja
menyusup lewat bawah rok Yayuk, mendarat di selangkangannya langsung
meremasi bukit kemaluannya. Lagi-lagi Yayuk kaget ingin lepas tapi
posisinya sudah dibuat terkunci lebih dulu oleh Enos yang sewaktu
mengawali ciuman sudah naik berbaring di sebelahnya. Di atas mulutnya
disumbat ciuman, masing-masing tangan yang sebelah ditindih dan sebelah
lagi dicekal tangan Enos yang melingkari bawah lehernya, sementara
sebelah kaki Enos pahanya menyusup di tengah selangkangan menjaga paha
Yayuk tidak bisa merapat.
Semakin keras Yayuk berusaha, semakin ketat tekanan Enos dan
semakin gencar terasa rangsangan Enos di kemaluannya. Bukan sekedar
meremasi dari luar lagi tapi Enos sudah menyusupkan tangannya langsung
bermain di bibir kemaluannya. Di situ jari-jarinya sudah meraba-raba
celah lubangnya mulai mengiliki kelentitnya. Masih terakhir Yayuk
berkutetan sebentar tapi kemudian kalah juga, malah mengikuti rangsangan
jari Enos yang mulai meningkatkan birahinya
terangkat naik. Apalagi ketika satu jari Enos ditelusupkan ke dalam
lubang dan mulai mengorek-ngorek di dalam situ, Yayuk dari semula ingin
berontak lepas, sekarang malah pasrah kepada Enos. Ini dibuktikan ketika
Enos mengendorkan cekalan tangannya, Yayuk ternyata tidak ribut ingin
lepas malah terdiam hanyut dengan mata terpejam menikmati asyik ciuman
bergelut lidah sambil lubang kemaluannya dilocoki jari Enos.
Ini di luar dugaan Enos mendapati Yayuk yang kebetulan cepat sekali
terangsang berahinya. Memang sadar sekarang bukan waktu yang tepat untuk
bercinta tapi untuk langsung berhenti Enos tidak tega sebab dilihatnya
Yayuk sudah terlalu hanyut jauh mendekati orgasmenya. “Hhghh sssh…”
betul juga, mengerang pelan terdengar suara Yayuk meskipun tidak kentara
tapi Enos tahu bahwa Yayuk sedang berorgasme saat itu. Sebentar
digencarnya rangsangan membantu Yayuk sampai terasa mengendor barulah
Enos berhenti. “Tuu kaan, percaya kalau Mas nggak mau jahat sama Yayuk.
Ini cuma sekedar supaya lebih kenal deket, soalnya cewek cantik kayak
Yayuk gini bikin Mas langsung gemes pengen cium sambil diremes-remes.
Ayo, rapiin dulu bajunya habis itu bisa ajak Ibunya ke sini,” kata Enos
dalam gaya merayu lembut simpatik untuk tetap mengambil hati Yayuk.
Caranya seperti sudah yakin bahwa Yayuk pasti akan menyetujui
tawarannya tapi memang Yayuk juga seperti tersihir dengan undangan itu.
Dia hanya sempat ragu-ragu waktu berjalan menemui keluarganya, cuma saja
di situ dia justru mengikuti apa yang ditawarkan Enos untuk mengajak
Ibu mertuanya menginap di kamar kerja Enos. Tentu saja Ibu senang dengan
kebaikkan Enos, padahal Yayuk sendiri setelah itu berdebaran jantungnya
menunggu pengalaman baru yang akan dialaminya malam nanti.
Kapal keluar mengarungi lautan, siang itu sudah langsung diterpa
ombak membuat para penumpang mulai pening. Lewat makan malam sebagian
besar sudah menggeletak lunglai termasuk Ibu dan Yayuk. Melihat itu Enos
memberi pil anti mabuk pada Ibu, tapi ketika Yayuk juga minta, dia
membisiki bahwa itu sebenarnya obat tidur dan Yayuk dicegah untuk ikut
meminumnya. Betul juga menjelang tengah malam ibunya sudah terkulai
pulas di sebelahnya dan ketika itu Enos yang sedari tadi kalau ke luar
masuk lewat pintu tersendiri dari kamar tidurnya, kali ini pura-pura
masuk dari pintu kamar kerja. Meyakinkan dulu bahwa Ibu benar-benar
sudah pulas, dia menarik lengan Yayuk mengajaknya ke kamar sebelah.
Yayuk yang sudah terkesan dengan kejadian siang tadi sudah tidak
ragu-ragu untuk bergerak bangun mengikuti ajakan Enos ke kamar tidurnya.
Baru saja masuk sudah langsung diangkat Enos dibaringkan di tempat
tidur.
“Tapi Mass… aku masih takut kalau ketauan..” bisik Yayuk menguatirkan perasaannya.
“Nggak usah kuatir… Ibumu nggak akan bangun sampai besok pagi. Sini Mas yang bantu bukain bajunya ya…?” hibur Enos sambil menawarkan bantuannya tapi diambil alih sendiri oleh Yayuk.
“Nggak usah kuatir… Ibumu nggak akan bangun sampai besok pagi. Sini Mas yang bantu bukain bajunya ya…?” hibur Enos sambil menawarkan bantuannya tapi diambil alih sendiri oleh Yayuk.
Enos menutup sebentar gordyn tempat tidur yang umumnya
terpasang khusus pada tempat tidur kapal, dia sendiri katanya akan ke
kamar mandi dulu. Suasana ruangan remang-remang dengan hanya lampu meja
menyala, di tempat tidur lebih gelap lagi terhalang oleh gordyn. Tidak
lama Enos kembali hanya mengenakan sarung saja ketika naik menyusul
Yayuk yang rupanya betul-betul patuh sudah bertelanjang polos menuruti
permintaan Enos. Meskipun samar-samar tapi cukup jelas terpandang tubuh
padat Yayuk, sudah langsung melonjakkan gairah nafsu Enos namun begitu
dia tetap menjaga kelembutannya agar tidak berkesan kasar pada
perkenalan pertama ini. Dipikir-pikir nekat juga Yayuk sudah langsung
pasrah dengan laki-laki yang baru pertama dikenalnya ini, tapi
ketampanan yang memikat serta kepintaran Enos merayu betul-betul sudah
menaklukan hati Yayuk. Siang tadi keasyikan yang dialaminya sudah begitu
membuatnya terkesan, sekarang berulang lagi ketika kedua bibir mulai
bertemu kembali membuatnya cepat jatuh dalam birahi karena
dia memang sengaja menuju ke situ. Sambil bibir bertemu kecup mesra,
diterimanya rangsangan tangan Enos yang menggerayang meraba dan meremasi
tubuh kewanitaannya. Beda dengan tadi, Enos tidak lagi perlu keras
terburu nafsu sebab Yayuk didapatinya sudah lebih dulu pasrah, lembut
saja tapi cukup mengipasi bara birahi Yayuk terbakar menyala.
“Kita bikinnya pelan-pelan aja ya? Jaga suara supaya nggak didenger
Ibumu…” begitu pesan Enos yang sekaligus membuktikan pada Yayuk bahwa
sebenarnya laki-laki ini kalem dan bukan type kasar. Ini makin
menenangkan Yayuk dan dalam tempo sekejap dia sudah terlupa pada
suaminya yang sedang meringkuk kedinginan dan pening, tidur beralaskan
tikar di lantai besi di geladak yang berangin kencang, sebab dia sendiri
di atas kasur empuk sedang dipeluk hangat seorang lelaki tampan yang
membuainya dengan kecupan mesra diiringi asyik susunya diremas-remas,
dipilin-pilin geli putting susunya. Meningkat asyik lagi ketika mulut
Enos selepas ciuman merambat dengan kecupan seputar leher, menurun
hingga tiba di bukit susunya, di situ berganti-ganti kedua puncak
bukitnya dikerjai kecapan mulut. Yayuk mulai menggelinjang meresapi
geli-geli enak pentilnya dijilat-jilat dan dihisap-hisap mulut Enos yang
terlatih. Tapi yang lebih membuatnya buntu kesadaran adalah ketika Enos
melengkapi rangsangan dengan merambatkan sebelah tangannya ke arah
selangkangan dan mengulang permainan siang tadi.
Membuka lebih lebar jepitan paha Yayuk,
begitu terkuak segera tangannya menyusup dan mengawali dengan
remasan-remasan di bukit kemaluannya sebelum disusul dengan jari-jarinya
mengukiri celah lembabnya. Di sini saja sudah membuat Yayuk mengejang-ngejang
dengan rahang terasa kaku. Apalagi sewaktu satu jari tengah Enos
disogokkan menggeseki mulut lubang kemaluannya “Serr… serr… serr…”
cairan pelicinnya mulai terpompa ke luar. Tapi serasa sudah banjir, Enos
kelihatan masih asyik berlambat-lambat. Padahal kalau tidak teringat pesan tadi, ingin rasanya Yayuk merengek
dan menggeliat-geliat binal disengat geli seperti ini. Rupanya Enos
menunggu sampai betul-betul matang, barulah dia masuk ke babak utama.
Berhenti sebentar untuk membuka sarungnya membebaskan batang
kemaluannya, segera dia pun berpindah mengambil posisi di tengah
selangkangan Yayuk. Dibubuhinya ludah dulu diujung kepala penisnya sebelum mulai dicucukkan ke lubang kemaluan Yayuk.
“Hhngghahh…” Yayuk tersedak
tenggorokannya ketika mulai menerima desakan pertama ujung batang
kemaluan Enos. Maklum masih asing dengan batang baru ini meskipun
diingini juga untuk melepaskan tuntutan kepuasannya. Tapi kalau nada di
atas kedengaran seperti kaget belum terbiasa, sambutan di bawah justru
luar biasa. Baru di pembukaan pertama Enos sudah langsung mendapatkan
kehangatan Yayuk.
Karena diburu oleh tuntutan laparnya, kemaluan perempuan ini bergerak
seperti refleks, menjepit dan menarik batang kemaluan Enos langsung
dibawa tenggelam masuk. Kontan Enos kedodoran menurunkan tubuhnya
seolah-olah ikut ditarik oleh sedotan lubang kemaluan itu. Tentu saja
Enos senang bukan main mendapat partner bercinta yang mengasyikkan
seperti ini.
Dalam pada itu
Enos dari sebelumnya sudah mempersiapkan diri, batang kemaluannya yang
kebetulan punya ukuran agak lebih besar dari milik suaminya Yayuk itu sengaja diolesi obat agar tegang lebih lama. Waktu baru masuk agak meringis juga Yayuk,
tapi sesudah mulai bisa menyesuaikan diri dan Enos juga membantu dengan
membakar lewat kecupan-kecupan mesra di seputar wajahnya. Yayuk mulai
melanjutkan lagi memainkan otot-otot lubang kemaluannya. Diputar
sebentar saja dia sudah menikmati asyik yang menggaruki liang
kemaluannya. Makin dikocok makin menjadi-jadi rasa itu memaksa
orgasmenya mulai mendekat untuk terlepas ke luar. Apalagi berikutnya
Enos menyusuli dengan juga memainkan pantatnya naik turun
menggesek-gesek batang kemaluannya, Yayuk makin
cepat dibawa ke puncak permainan tanpa dapat terbendung lagi. Akhirnya
memeluk mencengkerami punggung Enos diapun menyentak-nyentak sewaktu
mulai berorgasme.
“Hhoghh… sshhgh…” hanya suara tenggorokannya yang tersenggak
mengiringi saat kepuasannya itu, berusaha disembunyikan dengan cara
menggigiti pundak Enos. Enos jelas tahu keadaan Yayuk tapi dia tidak mau berhenti untuk memberi kesempatan Yayuk menarik
nafas. Sebab liang kemaluan yang diputar-putar menjepit menarik-narik
dan menganduk-nganduk itu sudah membuatnya terasa begitu enak, sementara
dia sendiri belum kebagian terpuaskan. Repotnya buat Yayuk ialah
lawan mainnya ini cukup tangguh dan berpengalaman, manalagi Enos
memakai obat penunda rasa sehingga bisa berlama-lama menikmati
keasyikkan permainan sementara Yayuk malah keteteran dibuatnya. Sudah banjir keringat keduanya namun permainan masih seru dan hangat sekali.
Padahal
biasanya perempuan kalau terlalu lama disetubuhi sudah melemah dan
menurun gairahnya, tapi batang kemaluan Enos yang keras kaku seperti
ampuh untuk merangsang terus di jepitan liang kemaluana Yayuk memaksa orgasmenya keluar sambung menyambung. Sehingga ketika Enos akhirnya sampai juga pada ejakulasinya untuk pertama kali, Yayuk sendiri sudah untuk yang ke tiga kalinya. Begitu lepas Yayuk langsung
terkulai lemas dengan tulang-tulang serasa dicopoti. Betul-betul lelah
sekali tapi tidak urung satu hal sudah tertanam di hatinya yaitu kesan
indah memuaskan sekali dari hasil permainan bersama Enos yang dinilainya
begitu jantan dan batang kemaluannya pun luar biasa enaknya. Maklum, Yayuk selama
ini hanya terpuaskan lewat milik suaminya saja. Dengan sendirinya
begitu dapat dari Enos terasa lebih dari cukup untuk memuaskan kemaluan
lapar milik Yayuk.
Kelanjutan malam itu meskipun Enos masih belum puas mengerjai Yayuk, tapi dia tidak memaksa ketika Yayuk karena
perasaan takutnya berkeras untuk kembali tidur bersama Ibu mertuanya.
Tapi cara Enos yang pintar mengambil hati begini justru menarik simpati Yayuk untuk
mengulang lagi di malam berikutnya dengan senang hati. Begitulah selama
perjalanan empat hari empat malam dari, kalau penumpang lainnya mabuk
pening oleh goyang ombak lautan, Yayuk sendiri justru mabuk enak oleh goyang senggama bersama Enos. Meskipun perjumpaan singkat namun Yayuk sudah terpincuk ketagihan dengan Enos. Terbukti di saat-saat terakhir sekalipun di suasana yang boleh dibilang nekat tapi Yayuk toh mau juga menutup keisengannya bersama lelaki tampan itu.
Masih beberapa jam menjelang tiba, semua penumpang sudah sibuk
mengemasi barang-barangnya. Waktu itu di kamar kerja Enos, suami dan Ibu
mertua Yayuk juga sibuk mengemasi perlengkapan mereka sementara Yayuk sendiri sedang ke luar mandi. Yayuk selesai
mandi dan berjalan kembali ke kamar kerja Enos, rupanya sudah ditunggu
Enos di balik pintu kamar tidurnya. Begitu akan melintas di situ
tiba-tiba pintu terbuka dan Enos langsung menangkap lengan Yayuk menariknya masuk ke kamar tidur itu. Karuan saja Yayuk kaget
dan memberi isyarat bahwa keluarganya sedang berkumpul di sebelah. Tapi
Enos berkeras sehingga meskipun serba salah terpaksa dituruti juga oleh Yayuk, apalagi di tikungan gang terdengar langkah kaki orang, Yayuk takut kalau terlihat bahwa dia sedang bertarik-tarikan dengan Enos di depan pintu.
Cepat dia meloncat masuk dan secepat itu juga buru-buru
melewati celah pintu penghubung kamar sebelah yang terkuak. Pintu itu
memang cuma bisa ditutup setengah dikaitkan dengan tali karena sudah
rusak, tapi masih ada penghalang gordyn sehingga tidak terlihat keadaan
di sini dari kamar kerja sebelah. Langsung mengambil tempat terlindung
di arah ujung tempat tidur, Yayuk berdiri dengan jantung berdebaran sementara Enos membalik kaset menyetel musik untuk menunjukkan pada orang sebelah bahwa dia masih ada di kamar sekaligus untuk meredam suara kehadiran Yayuk.
“Iddihh Mas nekat ahh… kalau ketauan aku di sini gawat nantinya… Ehh,
adduh! mau ngapain lagi Mass… Sebentar lagi mau nyampe aku pasti
ditungguin sekarang ini..!?”
Baru saja mengeluh Yayuk sudah menyambung protes kaget karena Enos tiba-tiba mengangkat tubuhnya untuk dibaringkan di tempat tidur. Meskipun begitu suaranya ditekan untuk berbisik pelan.
“Masih jauh nyampenya Yuk… Soalnya Mas masih penasaran kamu. Nanti kapan lagi bisa ketemunya, paling-paling setelah lewat dari sini kamu lupa lagi sama Mas.”
“Ya enggak sih Mas, kan aku udah janji akan ngirimin surat buat Mas, siapa tau nanti ketemu lagi.”
“Itu sih tetap Mas tunggu, cuma untuk perpisahan sekarang ini kasih sekali yang terakhir kan boleh?” Enos menawar sambil tangannya bekerja untuk menurunkan celana dalam Yayuk.
“Tapi aku nggak enak Mass… risih aku suamiku deket sekali di sebelah. Nanti kedengeran suaraku dia curiga, gimana alasannya?” Yayuk mengutarakan keberatannya meskipun begitu dibiarkannya juga celana dalamnya dilolosi lepas oleh Enos.
“Gampang, nanti bilang aja Mas Enos lagi ngasih bekal istimewa buat Bu Heru…”
“Bekal apa… aahahngg..!?” Yayuk tersenyum geli dengan canda Enos tapi kemudian dia mengerang manja ketika tiba-tiba dirasanya celah kemaluannya kena disosor mulut Enos.
Baru saja mengeluh Yayuk sudah menyambung protes kaget karena Enos tiba-tiba mengangkat tubuhnya untuk dibaringkan di tempat tidur. Meskipun begitu suaranya ditekan untuk berbisik pelan.
“Masih jauh nyampenya Yuk… Soalnya Mas masih penasaran kamu. Nanti kapan lagi bisa ketemunya, paling-paling setelah lewat dari sini kamu lupa lagi sama Mas.”
“Ya enggak sih Mas, kan aku udah janji akan ngirimin surat buat Mas, siapa tau nanti ketemu lagi.”
“Itu sih tetap Mas tunggu, cuma untuk perpisahan sekarang ini kasih sekali yang terakhir kan boleh?” Enos menawar sambil tangannya bekerja untuk menurunkan celana dalam Yayuk.
“Tapi aku nggak enak Mass… risih aku suamiku deket sekali di sebelah. Nanti kedengeran suaraku dia curiga, gimana alasannya?” Yayuk mengutarakan keberatannya meskipun begitu dibiarkannya juga celana dalamnya dilolosi lepas oleh Enos.
“Gampang, nanti bilang aja Mas Enos lagi ngasih bekal istimewa buat Bu Heru…”
“Bekal apa… aahahngg..!?” Yayuk tersenyum geli dengan canda Enos tapi kemudian dia mengerang manja ketika tiba-tiba dirasanya celah kemaluannya kena disosor mulut Enos.
Sebentar dia kikuk kegelian mencoba untuk menolaki kepala Enos
tapi karena Enos tetap berkeras, dia mengalah juga apalagi dia mulai
merasakan enak kemaluannya dikerjai mulut Enos. Rasa geli-geli asyik
ketika klitorisnya dijilat-jilat, digigiti gemas dan lubang kemaluannya
disodok-sodok kaku ujung lidah Enos. Yayuk dengan
suaminya belum pernah dipermainkan seperti ini. Jelas ketika
mendapatkan permainan baru dari Enos, dia pun semakin menyukai Enos yang
dinilainya pintar untuk bisa memberikan kenikmatan dan kepuasan dalam
seks kepadanya.
Sehingga kalau beberapa menit lalu dia masih setengah hati karena suami
dan mertuanya sedang ada di sebelah, sekarang dia sudah tidak perduli
apa-apa lagi. Buntu otaknya oleh rangsangan geli-geli mengasyikkan ini,
menelentang diam dengan mata sayu terpejam-pejam mulut setengah menganga
sambil terkangkang lebar memberikan kemaluannya yang terkuak bebas
dikerjai Enos.
Enos sendiri baru kali ini melihat jelas bentuk kemaluan Yayuk,
sebab selama ini selalu main dalam suasana gelap. Kontan gairah
kelelakiannya terangsang oleh liang kemaluan yang montok dan menggembung
menggiurkan ini, serasa rakus mulutnya mengecapi gemas-gemas nafsu
diikuti jarinya mengoreki lubangnya yang lunak hangat. Asyik bermain di
situ tapi lama-lama tidak tahan juga. Enos berhenti setelah melihat Yayuk sudah matang dirangsang, turun dia dari tempat tidur untuk menurunkan celananya. Berdiri di samping Yayuk kali ini dia sengaja membebaskan kemaluannya memamerkan batang telanjangnya dipandangi Yayuk dengan mata sayu bernafsu. Makin didekatkan batang itu ke muka Yayuk.
“Basahin sebentar sama ludahmu Yuk..!” pintanya menguji kesediaan Yayuk. Apa yang dimaksud segera dipenuhi Yayuk karena perempuan kalau sudah dibuktikan lebih dulu dihisap kemaluannya memang jadi murah hati. Padahal inipun masih risih dia melakukannya pada suaminya. Dalam berahinya terlupa sudah rasa risih dan jijik apalagi dengan lelaki bukan suaminya, langsung saja Yayuk mendekatkan
kepalanya membawa mulutnya mencaplok kepala batang Enos. Segera
dihisap-hisap dan dilocoknya bagian yang bisa tertampung di mulutnya
berdasarkan nalurinya sambil memejamkan mata untuk ikut menikmati rasa
yang terdapat di situ. Dia mulai mendapatkan keasyikan tersendiri dengan
mengulum batang kemaluan lelaki seperti ini tapi sayangnya tidak
berlama-lama karena Enos tidak ingin kehabisan waktu.
Meminta batangnya dilepas, Enos naik langsung menindih Yayuk dengan
menempelkan rapat kedua kemaluan masing-masing, tapi rupanya dia belum
langsung mulai, masih menggosok-gosokkan batang tegangnya di depan mulut
lubang sambil mengajak Yayuk bercumbu diiringi kecupan mesra di seputar wajahnya. Kalau belum dimasukkan memang belum bereaksi, jadi Yayuk masih bisa meladeni cumbu rayu Enos, saling berbisik dengan juga membalas berkecupan sama mesranya.
“Kalau udah di rumah nanti jangan lupa sama Mas Enos, ya Yuk…?”
“He ehh.. aku nggak bakalan lupa sama Mas, abisnya pinter maennya. Tapi jangan-jangan Mas sendiri yang lupa sama Yayuk?”
“Oo nggak, Mas pasti keinget terus sama memeknya Bu Heru yang pinter ngocok sendiri ini…”
“Ngg.., kontolnya Mas Enos yang mantep…” balas Yayuk tersenyum geli.
“Bu Heru suka ya? tapi jangan bilang-bilang Pak Heru kalau memeknya dipakai Mas, ya?” kata Enos sambil mulai memasukkan batangnya di lubang kemaluan Yayuk yang sedari tadi sudah siap menganga di bawahnya. Begitu tertancap langsung disambung gerakan keluar masuknya pelan.
“Asal jangan kenceng-kenceng Maass… nanti rusak, Pak Heru di sebelah bisa marah… Sshh hmmm… enak banget kontolnya Mas Enos… enaaakk rassanya…” sambil bertimpal canda Yayuk pun segera meresap asyik garukkan batang kemaluan Enos, liang kemaluannya mulai mengimbangi dengan goyang mengocok seirama dengan Enos.
“He ehh.. sambil diputer-puter gitu Bu Heru… Iyya sshh asyik kocokkannya… sshmmm…”
“He ehh.. aku nggak bakalan lupa sama Mas, abisnya pinter maennya. Tapi jangan-jangan Mas sendiri yang lupa sama Yayuk?”
“Oo nggak, Mas pasti keinget terus sama memeknya Bu Heru yang pinter ngocok sendiri ini…”
“Ngg.., kontolnya Mas Enos yang mantep…” balas Yayuk tersenyum geli.
“Bu Heru suka ya? tapi jangan bilang-bilang Pak Heru kalau memeknya dipakai Mas, ya?” kata Enos sambil mulai memasukkan batangnya di lubang kemaluan Yayuk yang sedari tadi sudah siap menganga di bawahnya. Begitu tertancap langsung disambung gerakan keluar masuknya pelan.
“Asal jangan kenceng-kenceng Maass… nanti rusak, Pak Heru di sebelah bisa marah… Sshh hmmm… enak banget kontolnya Mas Enos… enaaakk rassanya…” sambil bertimpal canda Yayuk pun segera meresap asyik garukkan batang kemaluan Enos, liang kemaluannya mulai mengimbangi dengan goyang mengocok seirama dengan Enos.
“He ehh.. sambil diputer-puter gitu Bu Heru… Iyya sshh asyik kocokkannya… sshmmm…”
Keduanya mulai tenggelam dalam asyiknya bersanggama. Sekalipun suaminya berada dekat di sebelah dan namanya disebut-sebut tapi Yayuk betul-betul sudah terlupa dengan cinta sucinya kepada sang
suami. Terlupa dirinya dalam nikmat beradu kemaluan dengan lelaki yang
relatif baru dikenalnya ini. Satu-satunya yang masih teringat cuma
menjaga suara jangan terlepas mencurigakan. Padahal
kalau saja Heru tahu apa yang terjadi di balik dinding sebelah, tentu
bisa pingsan dia saking dibakar cemburu. “Ssshh nghh… aahsh mngh.. hhgh
sssshh… ahh aaoohh dduhh… mmmhgng…” mungkin bisa terlepas ke kamar
sebelah suara desah nafas dan erang tenggorokan keduanya yang keenakkan,
tapi tentu saja Heru tidak curiga bahwa itulah erang rintih istrinya
yang sedang berorgasme melepaskan kepuasannya. Kapal merapat dan
penumpang turun, Enos dari anjungan atas hanya mengantar perpisahan ini
dengan senyum manis disambut Yayuk yang membalas dengan juga tersenyum malu-malu geli.
TAMAT
0 comments:
Post a Comment